Drama Monolog Satu Babak "Cinta Kristal"
CINTA
KRISTAL
KARYA : Jania Nurdela
SETTING : SEBUAH RUANGAN YANG TIDAK BEGITU
BESAR, TERDAPAT SEBUAH MEJA KAYU BERBENTUK PERSEGI DI SUDUT KIRI RUANGAN
BESERTA SEBUAH KURSI YANG TERSIMPAN
TEPAT DI BELAKANG MEJA. DI ATAS MEJA ITU TERDAPAT SEBUAH PIRING PLASTIK BERISI
MAKANAN DAN SEGELAS AIR YANG TERLETAK TAK JAUH DARI PIRING ITU, SERTA BUKU-BUKU
YANG TEBALNYA BERAGAM TERTUMPUK DENGAN RAPI DI SUDUT KANAN MEJA DAN SEBUAH PIGURA
FOTO DI SUDUT KANAN MEJA TERSEBUT. DI BAGIAN KANAN RUANGAN TERSEBUT TERDAPAT SEBUAH
PINTU YANG MENGHUBUNGKAN RUANGAN TERSEBUT DENGAN RUANG LAINNYA.
WAKTU ITU KIRA-KIRA PUKUL LIMA SORE, DI MANA
MATAHARI SUDAH MULAI MENGANTUK DAN SESAAT LAGI AKAN MEMEJAMKAN MATANYA. AGUNG
MASUK DARI PINTU TERSEBUT, KEMUDIAN BERJALAN PELAN SAMBIL MENENGOK KANAN KIRI
SEPERTI ORANG YANG HERAN. IA KEMUDIAN DUDUK DI KURSI YANG TERLETAK DEKAT DI
BELAKANG MEJA KEMUDIAN MENEGUK AIR MINERAL DALAM GELAS YANG TERLETAK DI ATAS
MEJA ITU SAMPAI HABIS.
AGUNG TERMENUNG, SESEKALI IA MEMUKUL-MUKUL
KEPALA LALU MENGGELENG DAN KADANG IA MENGGARUK KEPALA DAN PUNDAKNYA.
Mengapa badai tak kunjung reda? mengapa hujan terus mendera? mengapa ??
( KEMUDIAN MENUNDUK KEMBALI )
MENGANGKAT GELAS YANG TELAH
KOSONG ITU KEMUDIAN MELETAKKANNYA KEMBALI
Ana..Ana..ambilkan segelas air..
TIDAK ADA JAWABAN
Ana..apakah ada batu besar menyumbat telingamu?
TETAP TIDAK ADA JAWABAN
Ana..
( BERTERIAK )
Aaaah..tenggorokanku seperti diserang kemarau panjang
Ana..
IA MEREBAHKAN TUBUHNYA DI
KURSI DAN MENGHELA NAPAS PANJANG
Ana..ada apa denganmu hari ini? Mengapa kau tak segera melaksanakan
perintahku seperti biasanya? Bahkan menjawab pertanyaanku saja tidak.
MEMEJAMKAN MATANYA SEJENAK
DAN MEMBUKA MATANYA KEMBALI, KINI IA TERLIHAT SEPERTI ORANG YANG KETAKUTAN, IA
MENCARI-CARI PIGURA YANG TERLETAK DI ATAS MEJA, MERAIHNYA, KEMUDIAN DITATAPNYA PIGURA
YANG TERSELIP FOTO ANA DI DALAMNYA.
Ana..
( DENGAN SUARA LIRIH,
KEMUDIAN MATANYA MULAI MEMERAH )
Ana, mengapa kau biarkan langit membunuh semua bintang dan menjatuhkan
rembulan ke dasar bumi, kemudian daun-daun yang hijau berubah menjadi arang.
Hujan tak pernah reda, dan awan hitam tak juga terlepas dari dadaku
( MEMELUK PIGURA ITU )
Ana, kau biarkan sebuah pohon hidup sendiri di tengah padang
pasir..mengapa kau pergi Ana?
Ana…
( MELEMPARKAN SEMUA BUKU YANG
TERTUMPUK DI ATAS MEJA ITU DENGAN AMARAH )
Aku marah padamu Ana…apa kau tau itu?
( MEMUKUL-MUKUL KEPALANYA )
Mengapa kau tak memberikan aku kesempatan untuk mengubah bunga yang layu
menjadi permata? Kau tak pernah mengizinkan aku mengganti sirip-siripmu yang patah
dengan sayap yang indah? Mengapa tak sempat kau izinkan aku menghentikan segala
siksaanku padamu Ana? Aku sungguh mencintaimu, tapi seumur hidupku kau tak
pernah mendapatkan cinta itu..cintaku yang seumur hidupmu mengkristal dan
perlahan mencair semenjak kau pergi..seumur hidupmu aku hanya bisa menyuruhmu
ini dan itu…tanpa mempedulikan kau lelah atau tidak, bahkan kau sampai menunda
waktu makanmu demi menyuapi aku..
( MATANYA KEMBALI MEMERAH )
TIBA-TIBA TERDENGAR ALUNAN
SUARA DARI KOTAK MUSIK MILIK ANA
Suara ini ?
Ana ?
Ini tidak mungkin, dia sudah mati..burung-burung yang setiap hari
menggonggong itupun tau kau sudah mati..
( DIAM KEMUDIAN TERTAWA )
Hahaha..Ana..kau sudah pergi..
( MENANGIS SAMBIL SESEKALI
TERTAWA )
Aah..ada apa dengan pikiranku ini? Ana..kau telah terbang bersama
mega-mega, menyeberangi dinding yang tak bisa ku tembus..dari dasar hatiku aku
ingin sekali menebus segala badai penyesalanku ini dan mengatakan padamu bahwa
aku mencintaimu Ana..
( BERDIRI KEMUDIAN MEMBUNGKUK
DAN MEMUNGUT KEMBALI BUKU-BUKU YANG TELAH DILEMPARKANNYA )
Kau sabar, kau tak pernah mengeluh walaupun setiap malam kau aku suruh
untuk membereskan buku-buku yang bertebaran di setiap sudut ruangan ini..bahkan
buku-buku ini juga pernah aku pakai untuk memukul kepalamu..tapi kau selalu
berkata, setiap pendakian akan sampai pada suatu puncak, setiap sungai yang kau
susuri akan berujung pada suatu muara..dan jika suatu saat kau lelah akan kau
biarkan arusnya menghanyutkanmu sampai ke muara itu dengan sendirinya..
( BERDIRI KEMBALI DAN MERAIH PIGURA
YANG TERSIMPAN DI ATAS MEJA DAN MENATAPNYA DALAM-DALAM )
Kau telah lelah Ana, Kau telah lelah mengarungi lautan siksaku sedang kau
selalu meneteskan setitik cinta agar lautan nila itu dapat kembali menjadi air
susu..tapi kau menyadari bahwa impianmu itu seperti mengukir di udara..
( MEMELUK PIGURA ITU
ERAT-ERAT )
Kau lelah…kalau begitu tidurlah kau di bawah pohon Baringtonia asiatica ( Pohon Perdamaian ) bersama burung-burung yang setiap saat bernyanyi
untukmu..
LAYAR TURUN
suka :D
BalasHapusTerima kasih telah membaca :)
Hapusnice :D
BalasHapusTerima kasih sudah membaca :)
Hapuskeren
BalasHapusTerima kasih sudah membaca :)
Hapusgood
BalasHapusgood
BalasHapuskeren banget monolognya kak, izin pake ya buat seleksi teater
BalasHapuskeren banget monolognya kak, izin pake ya buat seleksi teater
BalasHapusKeren,saya mainkan boleh?hehe
BalasHapusKak ap kesimpulan dan latar belakangnya ka
HapusTulisan ini dibuat karena ada pesan yang ingin disampaikan yaitu jangan pernah menyia2kan ketulusan seseorang, karena di saat orang itu pergi penyesalanlah yang akan datang menggantikannya.
Hapus